Studi Pengganti Cilamaya Tak Rampung Dua Tahun

Studi Pengganti Cilamaya Tak Rampung Dua Tahun

TEMPO.CO, Jakarta – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, menyatakan akan tunduk kepada keputusan pemerintah pusat terkait dengan dibatalkannya pembangunan pelabuhan Cilamaya di Karawang. “Kalau putusannya sudah final, saya hormati,” katanya saat ditemui Tempo, disela-sela pencangan bulan bakti gotong-royong di Pagaden,Subang, Rabu, 6 Mei 2015.

Ketika disinggung lokasi pembangunan pelabuhan pengganti Cilamaya kemungkinan dipindahkan ke wilayah pesisir Subang atau Indramayu, Heryawan tak mengiyakan dan tak secara tegas menolaknya. Ia hanya berujar, “Kalau dipindahkan harus melakukan study kelayakan ulang, dan itu tidak akan selesai dua tahun.”

Menurut Aher, sapaan akrab Heryawan, dirinya belum akan menye untuk tetap memperjuangkan rencana pelabuhan penyangga pelabuhan internasional Tanjung Priok itu tetap di Cilamaya. Sebab, masih ada celah rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya bisa diteruskan.

“Dasarnya kami mendapatkan dukungan kuat dari para pengusaha dan para pakar,” kata Aher menjelaskan. Ia mengimbuhkan, pembangunan pelabuhan internasional di Karawang dinilai sangat tepat, karena basis industri di Jawa Barat berada di Karawang dan Bekasi. “Jadi, posisi pelabuhan Cilamaya sangat strategis.”

Ketua DPRD Jawa Barat, Ine Purnamadewi, meminta pemerintah pusat segera menentukan lokasi yang ditunjuk. “Yang penting ada kepastian dulu soal lokasinya,” ujarnya.”Lalu, lakukan study kelayakannya.”

Menurut ketua DPRD Jawa Barat perempuan pertama itu, ia telah beberapa kali menyampaikan soal pengganti pelabuhan Cilamaya tersebut baik kepada Presiden Joko Widodo mau pun Wakil Presiden M.Jusuf Kalla.

“Tetapi, sampai saat ini, belum juga ada jawaban pastinya,” kata Ine. Penentuan lokasi diperlukan secepatnya, karena harus menyesuaikan lagi dengan tata ruang Jawa Barat dan nasional.

Perihal lokasi pengganti pelabuhan Cilamaya mau di Subang, ia mengaku tak ada masalah. “Yang jelas, Jawa Barat memerlukan pelabuhan internasional buat menyangga kepentingan industri, penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Ine.

Anggota DPR RI asal daerah pemilihan Subang-Sumedang dan Majalengka, Tb.Hasanuddin, berjanji akan mengegolkan agar pelabuhan pengganti Cilamaya itu berada di wilayah Subang. “Soal lokasinya mau dimana itu terserah hasil kajian para peneliti,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR RIBidang Pertahanan tersebut, memberikan alasan, jika pelabuhan internasional tersebut dibangun di Subang, akan sangat mendukung kemajuan perekonomian dan industri Jawa Barat. “Lokasinya strategis karena akan langsung bersinergi dengan bandara Kertajati dan tol Cipali,” Hasanuddin memberikan alasan..

Bupati Subang, Ojang Sohandi, menyatakan pihaknya sangat antusias menyambut rencana pembangunan internasional pengganti Cilamaya tersebut. “Kami sudah punya pelabuhan pionir Patimban,” katanya.

Jika kemudian pelabuhan Patimban yang saat ini sedang melakukan pembangunan dermaga akan ditingkatkan statusnya menjadi pelabuhan internasional, sarana pendukungnya sudah disiapkan. “Kami sudah membangun jalan sepanjang 8 kilometer dengan lebar 25 meter dari mulai julur utama Pantur Mundu Raya sampai ke pantai Patimban,” kata Ojang. Selain itu, pihaknya juga sudah menyiapkan lahan buat pembangunan sarana perkantoran seluas 4 hektare.

Jika masih kurang, masih banyak lahan yang siap dipergunakan dan akan jauh dari konflik horizontal dengan masyarakat. Sebab, mayoritas lahan yang ada di pantai Patimban berada dalam penguasaan nehara.

Wakil Presiden M.Jusuf Kalla sudah memutuskan bahwa pembangunan pelabuhan Cilamaya dibatalkan, karena akan berdampak pada pipa milik Pertamina. Ia kemudian merujuk pengganti Subang atau Indramayu sebagai gantinya.

Source : www.tempo.co

About the Author
Probo Krismantoro