Ini Hasil Kunjungan Menhub di Kapal Patroli Tanjung Priok

Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau waiting time kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dalam tinjauannya, ia menaiki kapal patroli penjagaan laut dan pantai KN Trisula/P. 111. Hasil dari tinjauan tersebut, Budi ingin menjadikan Priok sebagai tempat yang dapat melakukan transhipment atau alih muat/pindah kapal secara teknis.

“Tujuannya kita ingin sekali Tanjung Priok menjadi pelabuhan yang besar. Kalau besar itu bukan hanya mengangkut barang yang di nusantara tapi juga regional, internasional,” kata Budi, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (6/11/2016).

Ia mengatakan, saat ini, Indonesia belum dapat berkompetisi dengan negara lain karena ada beberapa yang harus diperbaiki. Ia berpesan, Pelindo II harus memperbaiki model bisnis, SOP, waktu tunggu, pemanduan tunda, dan lainnya.”Indikasinya adalah transhipment sangat kurang di sini, makanya saya menginisiasi agar Pelindo ketemu Syahbandar, KSOP apa yang harus kita perbaiki, tarif akan kita perbaiki, model bisnis, SOP kita lakukan, yang namanya waktu tunggu, pemanduan tunda siapa yang berperan apa masing-masing saling menghormati. Kalau ada wait and see justru kita lakukan bagaimana kita percepat,” ujar Budi.

Salah satu caranya dilakukan kordinasi antara Syahbandar, KSOP, dan Pelindo II yang tadinya berjalan sendiri-sendiri menjadi satu. Hal itu agar Priok menjadi lebih kompetitif dengan sinergi tersebut. Ia menugaskan Pelindo II untuk mencari sistem yang mampu membuat Tanjung Priok menjadi lebih baik. “Kita berbenah nggak hanya ekonomi sedang bagus, kalau ekonomi lagi jelek kita bisa kompetitif alangkah bagusnya,” ungkap Budi.

Budi memaparkan cara agar Priok lebih kompetitif misalnya dengan mengurangi direct call, waktu tunggu tarif tunda, tarif pandu, SOP. Sedangkan untuk tarif transhipment telah diturunkan dari US$ 80/box menjadi US$ 35/box.

“Tarifnya dari US$ 80 jadi US$ 35 tapi nggak cukup dengan itu, waktu tunggu tarif tunda, tarif pandu, SOP harus diperbaiki. Waktu kita bekerja sama dengan siapa pun itu kita sudah memberikan angka yang kompetitif,” ungkapnya.Sementara itu, hal yang masih dikeluhkan terkait transhipment adalah waktu tunggu kapal sebelum dilayani yang mencapai 12 jam. Akan tetapi dia mengaku belum mengetahui akan dihemat hingga berapa.

“Nanti kita lihat karena nggak bisa kita cari waktu tertentu yang berlebihan juga kalau berlebihan bisa kontra produktif karena kapal-kapal ini kan menunggu juga ada barang yang akan diambil jadi nggak boleh memaksakan waktunya terlalu ketat. Kita lihat kompetisi kita seperti apa kita akan mendekati lebih baik daripada yang kompetitif,” imbuhnya.

Sementara itu, Dirut Pelindo II Elvyn G Masassya mengatakan, waktu tunggu kapal saat datang sebelum dilayani mencapai 12 jam. Sedangkan waktu pelayanannya hanya 30 menit. “Itu proses pelayanannya 30 menit, tapi sebelum dilayani mereka datang dan berlabuh di luar. Berlabuh di luar mereka mungkin nunggu barang mcam-macam,” kata Elvyn.

“Kan setiap hari ada 90 sampai 100 kapal. Tugas kita gimana kapal itu membuat merapat itu 30 menit namanya pandu tunda setelah mereka minta untuk dilayani. Selama mereka berlabuh belum minta mungkin karena barangnya belum datang,” kata Elvyn.

Source : www.finance.detik.com